Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Syailendra

Dinasti Syailendra

Dinasti Syailendra merupakan dinasti yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno, yang terletak di wilayah Jawa Tengah, Indonesia, pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Mereka dikenal sebagai penganut agama Buddha Mahayana dan telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan seni dan arsitektur Buddha di wilayah tersebut.

Letak wilayah Mataram Kuno  
 
Sumber Sejarah yang menerangkan tentang Dinasti Syalendra, diantaranya :
  • Prasasti Kalasan (778 M) menyebutkan Raja Dinasti Syailendra yang menunjuk Rakai Panangkaran mendirikan Bangunan Suci Bagi Dewa Tara dan Bihara bagi para Pendeta
  • Prasasti kelurak (782 M) didaerah Prambanan menyebutkan arca Mansjuri sebagai perwujudan sang Budha, Wisnu, dan Sangha yang dapat disetarakan dengan Brahma, Wisnu, dan Siwa. Dalam prasati ini juga disebutkan Raja yang sedang memerintah yaitu Raja Indra
  • Prasasti Ratu Boko (856 M) meyebutkan kekalahan Raja Balaputra Dewa melawan kakaknya Pramordhawardana
  • Prasasti Nalanda (860 M) menyebutkan asal usul Balaputra Dewa sebagai putra Raja Samaratungga dan cucu dari Raja Indra
Kehidupan Politik Dinasti Syailendra dapat kita pelajari dari kehidupan Raja-raja yang pernah memerintah Dinasti Syailendra, yaitu:
  • Raja Bhanu (752-775 M)
  • Raja Wisnu (775-782 M)
  • Raja Indra (782-812) melakukan perluasan wilayah hingga ke Selat Malaka dan melakukan perkawinan Politik dengan mengawinkan Putranya Samaratungga dengan Putri Raja Sriwijaya.
  • Raja Samarotungga (812-833 M) Pada masa pemerintahnnya dimulai pembangunan candi Borobudur
  • Raja Balaputra Dewa (833-856 M) Diberi tahta oleh Kakak tirinya yang tidak sanggup memerintah yaitu Pramodhawardana
  • Ratu Pramordhawardani (856 M) setelah menikah, suaminya Rakai Pikatan mendesak Pramodawardani untuk menarik tahtanya kembali sehingga terjadi perang Saudara dan dimenangkan oleh Rakai Pikatan. Balaputra dewa kemudian melarikan diri ke Sriwijaya dan diangkat menjadi Raja.
Dari sisi kehidupan Sosial Dinasti Syailendra sudah mengenal bergotong-royong dalam pembuatan Candi selain itu Raja dianggap sebagai perwujudan Dewa. Candi Borobudur merupakan bangunan terbesar yang menjadi bukti bahwa Dinasti Syailendra mengenal kehidupan bergotong-royong. Candi Borobudur yang sangat megah tidak akan selesai jika  dalam proses pembangunan candi Borobudur hanya melibatkan sedikit orang.
Candi Borobudur

Kehidupan Budaya Dinasti Syailendra menghasilkan bangunan Candi-candi yaitu candi Mendut, candi Pawon, candi Borobudur, candi Kalasan, candi Sari, dan candi Sewu. Taukah kamu bahwa kata Borobudur diperkirakan berasal dari kata Bhumi Sambhara yang berarti “bukit atau gunung” Buddhara yang berarti Raja jadi Borobudur adalah berarti Raja Gunung yang sama artinya denga Syailendra